Recent Posts

Berbagi Ide dan Gagasan Untuk Menginspirasi Anak Negeri

Senin, 12 Juni 2023

Belajar Menulis Uncle Den

Resensi Buku “Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja”

 






A.    Profil Penulis


Alvi Syahrin seorang novelis pria kelahiran Ambon, pada tanggal 20 Januari 1992. Saat ini Alvi Syahrin menetap dikota Surabaya untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.


B.    Identitas Buku


Judul: Jika Kita Tidak Pernah Baik-Baik Saja. Penulis: Alvi Syahrin. Penerbit: Gagas Media. Jumlah halaman: 208 halaman


C.    Sinopsis Buku


Bagian pertama, patah hati, pengkhianatan, dan kehilangan. Perpisahan merupakan awal dan akhir perjalanan. Perpisahan merupakan akhir dari hubungan yang telah dijalin, dibangun, yang didasarkan rasa cinta, saling memahami, selalu mendampingi, dan saling menyakiti. Kita semua pernah mengalami krisis, tak pernah baik-baik saja menerima keadaan, dan menyalahkan diri sendiri. 


Bagian kedua, letting go atau melepaskan. Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Melepaskan dan berdamai dengan masa lalu tidak hanya sekedar kamu bisa mengucapkan “aku sudah melepaskannya, aku sudah berdamai dengan masa lalu dan rasa sakit yang aku rasakan”.


Bagian ketiga, kebahagiaan yang telah lama hilang. Sesungguhnya tujuan hidup bukanlah kebahagiaan. Namun, itu juga bukan berarti kita menutup semua jalan untuk dapat merasa bahagia.


Bagian keempat, self-love. Bagaimana caranya aku dapat mencintai diriku sendiri jika kerap kali aku melakukan kesalahan yang sama terus menerus? Bagaimana aku dapat menerima kekuranganku yang sangat buruk? Bagaimana aku bisa mencintai diriku sendiri jika aku saja tak menyukai diriku sendiri?


Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja, mengajak kita mengenal arti kecewa dan bahagia demi mencintai diri sendiri dan sesuatu yang lebih dari segalanya.


D.   Kelebihan Buku


Gaya bahasa yang digunakan Alvi Syahrin dalam menuliskan buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja adalah gaya bahasa yang santai layaknya sedang bercerita kepada seorang teman. Melalui gaya bahasa seperti ini, Alvi mampu menarik para pembacanya untuk menghayati tiap-tiap cerita yang diibaratkan seperti curhatan dari seorang teman yang dapat menjadi pelajaran bagi para pembaca.


Alvi Syahrin menuliskan buku ini secara runtut dan rapih, dengan dimualai memaparkan pembukaan yang berupa masalah, lalu dilanjutkan dengan pemaparan pencairan solusi atas permasalahan tersebut, dan pada akhirnya ditutup dengan penerimaan? Cara bercerita Alvi ini dapat membuat para pembacanya memahami secara jelas keadaan yang digambarkannya.


E.    Kekurangan Buku


Dalam Buku Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja, gaya penuturan Alvi Syahrin dinilai sedikit berbeda dibandingkan kedua buku sebelumnya, Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa dan Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta. Gaya penuturan Alvi pada buku ini dinilai menjadi terlalu singkat.


Memang Alvi menyampaikan ceritanya secara to the point, tapi penuturan dalam buku ini terlalu singkat sehingga membuat para pembaca kurang bisa mendalami secara emosional masing-masig ceritanya.


Penulis : Nazwa Sania (Mahasiswi Ekonomi Syariah Unpam)

Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kombisindonesia.com

**)  Rubrik opini di KOMBIS Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 600 atau 700 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: belajarmenulisid@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Kombis.






Belajar Menulis Uncle Den

About Belajar Menulis Uncle Den -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :